Intel Kuntit Bung Karno di Pengasingan Ende

Intel Kuntit Bung Karno di Pengasingan Ende

Manis Sejagad – Sebagai manusia biasa, Bung Karno mengungkapkan kegundahan hatinya kala menghadapi pengasingan tersebut. Ketiadaan kawan membuat hari-hari pertamanya di Flores serupa penyiksaan. Dia mengaku tidak bebas bergerak. Ada sejumlah polisi pemerintahan Hindia Belanda yang memantaunya. Mereka tidak mengenakan seragam namun dapat diketahui dari gegalatnya.

“Kalau ada seorang Belanda misterius selalu berada pada jarak sekitar 60 meter di belakangku, aku dapat memastikan dia adalah polisi,” ungkap Bung Karno.

Sukarno menuturkan, ada kejadian unik kala intel membuntutinya. Saat itu, ia tengah bersepeda menyusuri jalan di rumah-rumah panggung untuk menuju sungai. Tiba-tiba, ada seorang sipil mengayuh sepeda sangat dekat. Sang intel itu berhenti. Dia memata-matai gerak-gerik Sukarno.

Tak dinyana, ketika sedang asyik memantau objek, sang intel tiba-tiba digonggong dua ekor anjing. Saking kagetnya, sang spion itu langsung menaiki sepeda dan berdiri di atasnya. Tangannya berpegangan erat ke sebatang pohon.

Atas kejadian itu, Sukarno protes kepada petinggi kepolisian. Dia meminta sang intelijen tidak memata-matainya secara dekat. “Maaf, Tuan Sukarno, kami telah memberi instruksi kepadanya untuk tetap berada dalam jarak 60 meter,” jawab sang petinggi tersebut.

Flores selamanya akan tetap melekat dalam kenangan Bung Karno. Di tempat ini, Bung Karno mendengar bahwa HOS Tjokroaminoto, guru politiknya, wafat. Sebelum HOS Tjokroaminoto wafat, ia telah mengirim surat yang berisi harapan kesembuhan untuk sang mentor.

Surat itu diperlihatkan oleh HOS Tjokroaminoto kepada setiap orang. “Aku menangis mengenang tokoh besar pergerakan ini,” ujar Sukarno.

Baca Juga : Heboh Foto Ahok Lagi Mandi di Laut

Baca Juga : Karena Sakit Hati Tak Dilayani Gadis SMP Tipu Ojek Online

Selain menerima kabar duka, Sukarno juga kerap menyendiri selama dalam pengasingan. Tempat favoritnya berada di bawah pohon sukun yang berjarak 700 meter dari kediaman. Pemandangan indah yang menyajikan Laut Ende membuat ia betah melakukan kontemplasi di lokasi itu.

“Aku duduk melamun selama berjam-jam,” kata Bung Karno.

Biasanya Sukarno pergi sendiri ke tempat itu pada Jumat malam. Di tempat itu, dia mengaku tercetus buah pemikiran Pancasila. Hal itu diutarakan Bung Karno saat menjadi Presiden RI Pertama yang kembali mengunjungi Ende pada 1950. Kala itu ia bercerita bahwa tempat ini menjadi bagian penting dalam proses pencetusan Pancasila yang kini ditetapkan sebagai dasar negara.

Sejak 1980-an, pohon sukun itu kemudian dikenal menjadi Pohon Pancasila. Namun, pohon aslinya sudah mati pada 1970-an. Pemerintah setempat menggantinya dengan anakan pohon yang sama.


Be the first to comment

Tinggalkan Balasan