Kematian ISIS: Joanna Palani Bagaikan Wonder Women yang Nyata

Joanna Palani Bagaikan Wonder Women yang Nyata

Selalu mengambil posisi garis terdepan di medang perang mengingatkan Joanna Palani dengan sosok Wonder Women yang diperankan Gal Gadot. Sosok ini begitu nyata dalam gambaran wawancara eksklusif dailymail dengan wanita cantik berusia 23 tahun keturunan Denmark-Irak.

Joanna Palani mengaku pernah bertahan sembilan hari sebagai penembak runduk atau sniper tanpa perbekalan yang cukup saat berjibaku dengan ISIS. Juni 2016 ia pun kembali ke Irak dan menjadi garda terdepan di Manbij yang terletak di timur laut Aleppo bersama para wanita yang dilatihnya.

“Sebagai penembak jitu saya bisa berada di garis depan sembilan hari berturut-turut. Saya bangun jam 4-5 pagi dan mengambil posisi jauh dari jendela. Di siang hari kami bertahan, di malam hari berburu dan menembak,” papar Joanna.

Meski ia sangat berapi-api saat menceritakan tugasnya sebagai seorang sniper, Joanna menolak membahas detail berapa banyak orang yang sudah dibunuhnya. Menurutnya, tak ada kebanggaan saat mengambil nyawa orang lain.

Ia lebih memilih memberitahukan sniper yang diidolakan sejak remaja. Wanita tersebut dikenal sebagai Lady of Death di Perang Dunia 2 yang telah membunuh 309 orang Nazi.

“Saya suka menggunakan otak dan tubuh untuk fokus saat menjalankan misi. Rasanya seperti Lyudmila Pavlichenko, Lady Death dari Tentara Merah Rusia,” jelasnya.

Selain ketenangan otak dan tubuh, Joanna Palani juga selalu memakai busana kamuflase atau army dan scarf untuk menutupi rambut pirangnya selama bertugas menjadi sniper. Kemudian mencari tempat ternyaman untuk berbaring dan telungkup sepanjang hari.

Kini Joanna Palani sudah kembali ke Denmark dan bersatu dengan keluarganya. Ia pun berencana ingin mengabadikan kisahnya dalam sebuah film.

Rasanya ini bukan sebuah kebetulan, Joanna Palani kecil memang sudah terbiasa melihat ayah dan kakeknya mengangkat senjata sebagai pejuang di Irak. Ia juga memilih kuliah jurusan politik untuk mengerti bagaimana pemberontakan terjadi dalam sebuah negara.

“Jutaan orang memperjuangkan demokrasi dan saya ingin menjadi bagian darinya. Saya berusia 17 tahun ketika menyadari tak ada Batalyon perempuan di Irak,” timpalnya lagi.

Kini karier militernya pun mendapat perhatian dari negaranya Denmark dan dunia. Ia mengaku tak ingin mencari simpati atau ucapan terima kasih. Ia hanya ingin menciptakan perdamaian dan memperjuangkan kebebasan.

“Saya sudah mempertaruhkan segalanya demi memperjuangkan kebebasan dan perdamaian. Termasuk nyawa dan keluarga. Saya juga ingin minta maaf karena melanggar hukum, tapi saya mempunyai tujuan untuk itu,” pungkas Joanna.

 


Be the first to comment

Tinggalkan Balasan