Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia

Ikrar Damai Suporter  Harus Didukung Regulasi

Manis Sejagad – Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Dan sejumlah kelompok suporter sepakbola Indonesia telah satu suara untuk memerangi kekerasan yang kerap terjadi di kompetisi Tanah Air.

Tewasnya Ricko Andrean salah satu suporter Persib Bandung yang menjadi korban pengeroyokan salah sasaran, telah membangkitkan rasa haus akan perdamaian. Insiden nahas itu pun membuat seluruh elemen suporter di Tanah Air mengikrarkan persatuan menyuarakan aksi damai. Dengan menekankan bahwa tak boleh ada lagi nyawa melayang sia-sia.

Pada Kamis (3/8/2017) lalu, sebanyak 50 kelompok suporter Tanah Air telah mendeklarasikan aksi damai dengan saling bertemu dalam sebuah acara bertajuk “Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia”. Acara sendiri digagas langsung oleh Kemenpora diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan damai.

Lantas, apakah masalah telah selesai sampai di situ, sehingga kekerasan antar suporter di Indonesia serta-merta akan hilang?Pengamat sepakbola, M. Kusnaeni, mengungkapkan bahwa aksi damai yang diikrarkan oleh berbagai elemen suporter itu perlu diapresiasi. Kendati demikian, hal itu akan sia-sia jika hanya berakhir pada “hitam di atas putih”.

Viking damai dan bersatu

“Efektif atau tidaknya tentu kita perlu melihat perkembangannya. Kalau saya melihat, inisiatif ini memang perlu dilakukan, tetapi perlu diingat. Bahwa sepakbola diIndonesia ini situasinya (terutama dari aspek keriuhan suporternya). Seperti mengingatkan kita kepada situasi yang ada diInggris pada tahun 80-an,” ujar Kusnaeni.

Menurut Pengamat Sepakbola

Menurutnya, pada akhir 1980-an di Inggris, ketika itu muncul kelompok-kelompok suporter yang istilahnya “mengharamkan suporter lain menginjak area mereka” dan situasi suporter Indonesia saat ini mirip dengan situasi Inggris saat itu.

Ketika itu, situasi kekerasan antar suporter sudah sangat mengkhawatirkan masyarakat Inggris. Alhasil, pemerintah bekerja sama dengan parlemen di sana melakukan pembenahan secara besar-besaran dan dibuktikan akhirnya dengan ACTA Suporter 1989.

ACTA tersebut kemudian dijadikan road map untuk membenahi persoalan suporter di Inggris yang isinya tidak hanya menyangkut penertiban suporter yang anarkis, tetapi juga membangun sebuah sistem yang mewujudkan agar “orang nonton bola itu nyaman”.

Suporter Bersatu

Bentuk kongkretnya macam-macam, salah satunya meniadakan pagar pembatas agar nuansa psikologis menonton pertandingan sepakbola itu nyaman dan aman, lalu juga meniadakan tribun berdiri di stadion.

“Nah, kebanyakan ‘kan di Indonesia yang namanya nonton bola itu masih di ada saja kejadian yang nontonnya di belakang pagar. Jadi, bisa dikatakan kondisi kita saat ini sama dengan mereka (masyarakat Inggris) pada tahun 1980-an. Masih banyak di stadion kita yang menonton berdiri. Stadion juga rata-rata tak dilengkapi dengan single seat,” katanya.

Baca Juga : Ketum The Jakmania Hajar Anggotanya Karena Memaki Viking

Road map itu, lanjut Kusnaeni, juga mengatur ketentuan mengenai alokasi tempat duduk untuk tim tamu yang datang. Bahkan sampai mengatur kepada posisi duduk. Suporter tamu juga dilarang menempati tribun atas, melainkan harus dekat dengan lapangan.

“Kita harus sampai ke situ dan jangan berhenti pada pernyataan damai karena itu tak akan efektif karena harus ada tindak nyata yang sifatnya bukan menghimbau dan mendorong, tapi sudah mengatur dalam sebuah bentuk regulasi.”
“Regulasi akan efektif kalau melibatkan pihak-pihak yang berwenang membuat aturan yaitu Dewan perwakilan Rakyat (DPR).”

Perdamaian Suporter Viking dan Thejack

“Sekarang ini, menurut saya, salah satu yang membuat polisi masih gamang dengan apa yang mereka lakukan dengan kasus-kasus di stadion karena penyelesaiannya ‘kan tidak jelas. Ujung-ujungnya damai antar suporter, damai dengan keluarga korban. Karena polisi juga masih gamang dengan payung hukumnya.”

“Kalau pun menggunakan KUHP apakah cukup? Meskipun ada pasal di KUHP yang mengatur tindak kekerasan, perbuatan tidak menyenangkan, apakah itu efektif dalam olahraga yang diatur juga oleh Hukum Olahraga?”

Baca Juga : Persib VS Persija Imbang 1 – 1 Berujung Ricuh

“Ini harus ada kekuatan kepada aparat penegak hukum dengan regulasi yang lebih mengikat. Apa bentuknya, ya silakan bicarakan antara DPR, Pemerintah, PSSI, masyarakat pecinta sepakbola, stakeholder yang lain supaya ada regulasi yang mengikat dan bisa memberikan kekuatan hukum kepada aparat penegak hukum.”

Kusnaeni menegaskan bahwa sepak bola itu tidak bisa hanya diurus oleh federasi, karena sepak bola membutuhkan negara.”Jadi poinnya jangan menghentikan permusuhan suporter saja, tapi juga membangun suasana yang nyaman bagi semua pihak di mana pun,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan